Jumat, 10 Januari 2014

Apa itu PENYAKIT DEGENERATIF?



Istilah penyakit degeneratif akhir-akhir ini menjadi pembicaraan hangat berbagai kalangan dan bukan lagi menjadi konsumsi para dokter. Pesatnya perkembangan penyakit tersebut telah mendorong masyarakat luas untuk memahami dampak yang ditimbulkannya...

Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya.Dari berbagai hasil penelitian modern diketahui bahwa munculnya penyakit degeneratif memiliki korelasi yang cukup kuat dengan bertambahnya proses penuaan usia seseorang. Meskipun begitu faktor keturunan juga berperan cukup besar.Di Indonesia, penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi, ujar Kasubdinas Sosial dan Info Kesehatan Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, drg. Tini Suryani."Perubahan gaya hidup ini dapat dilihat secara jelas antara lain dengan munculnya tempat-tempat makan junk food di hampir seluruh sudut kota. Junk food adalah makanan tidak sehat karena memiliki nilai nutrisi rendah," katanya.Jenis makanan ini mengandung lemak jenuh (saturated fat), garam dan gula, serta bermacam-macam additive seperti monosodium glutamate dan tartrazinedengan kadar yang tinggi. Junk food hampir tidak mengandung protein, vitamin serta serat yang sangat dibutuhkan tubuh.
Di kota-kota besar di Indonesia junk food dijual di berbagai pusat perbelanjaan dan pusat jajanan. Bahkan restoran jenis makanan yang memiliki kadar kolesterol tinggi ini sudah merambah kota-kota kecil di hampir seluruh pelosok tanah air.Di Jakarta, misalnya, tempat makan seperti ini bisa dijumpai di seluruh sudut kota. Demikian juga di kota-kota sekitar Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Cibubur, masyarakat dimanjakan dengan mudahnya mendapatkan makanan serba instan bahkan gerai-gerai penjualan makanan cepat saji menawarkan jasa pesan antar.Pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian masyarakat perkotaan. Sebagai contoh, gorengan jenis makanan murah meriah dan mudah didapat karena banyak dijual di pinggir jalan ini rasanya memang enak.Jajanan seperti pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, pisang coklat (piscok), bala-bala serta banyak yang lain dengan rasanya yang gurih, renyah, dan berharga murah, membuat orang menyukai makanan gorengan.Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa makanan gorengan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi sebagai pemicu penyakit degeneratif seperti penyakitdiabetes melitus, kardiovaskular, serta stroke.
Dr. Rustika, peneliti Balitbang Departemen Kesehatan, dalam disertasi doktornya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular saat ini telah menjadi pembunuh yang cukup signifikan.Penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang berhubungan dengan kelainan pembuluh darah dan jantung. Di Indonesia, penderita penyakit ini terus meningkat dan telah menjadi penyebab kematian urutan pertama untuk orang dengan usia di atas 40 tahun. Sedangkan di negara-negara kaya penyakit ini merupakan pembunuh utama.
MENINGKATDi Indonesia, angka kematian akibat penyakit ini terus meningkat. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (National Household Health Survey) tahun 2001 menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular telah menjadi penyebab kematian paling tinggi di tahun 1992, 1995, dan 2001, padahal pada tahun 1972 baru menempati urutan ke-11.Penyakit kardiovaskular disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida serta penurunan kadar HDL dalam darah. Peningkatan ini diakibatkan oleh dampak modernisasi yang mengubah perilaku sebagian masyarakat Indonesia menjadi pengonsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi lemak.Lebih lanjut hasil penelitian Dr. Rustika menunjukkan bahwa dari 29,70 gram per hari asam lemak jenuh yang dikonsumsi oleh masyarakat, hanya 20% di antaranya atau 5,93 gram per hari yang berasal dari makanan non-gorengan.Sementara 80% lainnya atau 23,77 gram per hari berasal dari makanan gorengan, setara dengan tiga potong jenis makanan gorengan lauk dan lima potong makanan selingan atau dua potong lauk dan delapan potong makanan selingan."Kebiasaan memakan makanan gorengan yang berlebihan berbahaya bagi kesehatan, terutama penyakit degeneratif," ujar Rustika.
Penyakit degeneratif yang tidak menular ini sejak beberapa dasawarsa silam telah menjadi permasalahan yang cukup serius bagi banyak negara di seluruh dunia.World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa penyakit degeneratif ini telah menambah peliknya kondisi kesehatan sebagian negara di dunia, yang selama ini telah dihimpit permasalahan banyaknya kasus penyakit menular dan infeksi yang tergolong non degeneratif.Lembaga ini juga mengatakan bahwa banyak negara mengalami kerugian hingga miliaran dolar akibat penyakit degeneratif. Oleh karena itu dibutuhkan langkah konkret untuk menanggulanginya.Masih menurut WHO, hingga akhir tahun 2005 saja penyakit degeneratif telah menyebabkan kematian hampir 17 juta orang di seluruh dunia. Jumlah ini menempatkan penyakit degeneratif menjadi penyakit pembunuh manusia terbesar.Jumlah terbesar kematian ada di negara-negara dengan pendapatan nasional rendah hingga tinggi.Dalam laporan itu disebutkan ada sembilan negara dengan korban terbesar. Negara-negara tersebut adalah Brasil, China, India, Inggris, Kanada, Nigeria, Pakistan, Rusia dan Tanzania. Seperti masalah kesehatan pada umumnya, penyakit degeneratif juga sangat mempengaruhi banyak faktor dalam kehidupan manusia. Sektor yang paling dipengaruhi adalah sektor ekonomi, karena penyakit ini sangat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang.Laporan terbaru WHO mengatakan bahwa pendapatan tiga negara yang memiliki penderita penyakit degeneratif terbesar yaitu China, India dan Rusia, hingga 10 tahun ke depan diperkirakan dapat mengalami kerugian hingga ratusan miliar dolar.Ini baru dari empat jenis penyakit saja, yaitu stroke, jantung, kanker dan diabetes.WHO Lebih lanjut menyatakan sebanyak satu miliar orang di seluruh dunia saat ini menderita kegemukan, suatu keadaan yang bisa memicu berbagai penyakit degeneratif. Jumlah ini diperkirakan naik menjadi 1,5 miliar pada tahun 2015.Bermacam-macam pendekatan diajukan oleh berbagai kalangan. Dua di antaranya adalah mengusulkan pengurangan penggunaan garam pada berbagai makanan olahan yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan produsen makanan olahan serta pengenaan pajak yang lebih tinggi terhadap produk rokok.
DAPAT DICEGAHSalah satu penyakit degeneratif yang banyak menimpa adalah diabetes militus. Penyakit ini merupakan penyakit degeneratif non infeksi yang bersifat menahun akibat tingginya kadar glukosa dalam darah. Penyakit diabetes sangat berbahaya karena dapat menyebabkan munculnya penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya seperti jantung, ginjal dan kebutaan.
Dr. Joko Triharto-seorang dokter ahli penyakit dalam, pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa diagnosis penyakit secara dini adalah cara terbaik untuk menghindari penyakit diabetes melitus yang berkepanjangan."30% penyebab penyakit diabetes melitus adalah faktor keturunan. Penderita berusia 15 tahun ke atas sekitar 1,2-2,3% dan angka ini cenderung meningkat seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi," kata Dr. Joko.Seperti juga para ahli lainnya, ia juga mengatakan ada tiga cara pencegahan penyakit yang masuk kelompok degeneratif ini. Ketiga cara itu adalah melakukan pola makan yang baik yaitu tidak makan makanan berlemak seperti junk foodserta makanan berkolesterol lainnya, melakukan olahraga teratur, serta tidak merokok. Untuk kelompok dengan risiko tinggi yaitu orang dengan usia di atas 45 tahun, memiliki orang tua yang mengidap penyakit diabetes, serta memiliki berat badan berlebih, ketiga cara di atas harus ditambah dengan pemeriksaan kesehatan secara teratur.Penyakit degeneratif dapat dicegah dengan cara meminimalkan faktor-faktor risiko penyebabnya. Faktor-faktor risiko ini sebenarnya telah diketahui secara luas oleh hampir semua kalangan masyarakat. Faktor-faktor risiko utama penyebab penyakit degeneratif adalah pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta konsumsi rokok.Ketiga faktor risiko ini meningkat seiring dengan perubahan kebiasaan makan masyarakat, ke arah konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, dan jenis pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga (sedentary).Peningkatan pemasaran dan penjualan produk tembakau yang marak pada negara-negara dengan pendapatan rendah hingga sedang sangat berperan dalam menjadikan konsumsi rokok sebagai faktor risiko penyebab penyakit degeneratif.Organisasi kesehatan dunia melaporkan, sebanyak satu miliar orang di seluruh dunia menderita kegemukan, dan diperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 1,5 miliar hingga tahun 2015, jika tidak ada upaya penanggulangan segera.Banyak kalangan menawarkan pendekatan yang solutif terhadap hal ini, di antaranya dengan melakukan pengurangan penggunaan garam pada makanan olahan, mengembangkan pola makanan sekolah, dan penerapan pajak tembakau.Cara-cara tersebut ternyata tidak hanya efektif dan efisien, namun juga menguntungkan bagi pemerintah. (kpl/cax) 
Semoga bermanfaat, good luck & GOD bless you...


Baca selengkapnya disini

Hati-hati Dengan Bahaya Penyakit Degeneratif di Usia Dini

REP | 03 September 2013 | 09:30 Dibaca: 620   Komentar: 0   0
Saat ini, penyakit degeneratif sedang hangat dibicarakan oleh semua orang. Namuan, tahukan sobat apakah sebenarnya penyakit degeneratif itu?. Menurut istilah kedokteran, penyakit degeneratif adalah suatu penyakit yang muncul akibat kemunduran dari fungsi sel di tubuh kita dari keadaan normal menjadi lebih buruk yang diakibatkan oleh asupan makanan yang kurang sehat. Banyak sekali penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit degeneratif, beberapa diantaranya adalah penyakit jantung koroner, obesitas, stroke, diabetes melitus atau kencing manis dan sebagainya.
Di jaman yang serba mudah dan instant ini sering kali kita jumpai makanan atau jajanan yang dijual bebas di pasaran yang bisa dibeli dengan mudah dan terjangkau sehingga siapapun bisa menikmatinya mulai dari usia anak-anak sampai dewasa. Meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga merubah gaya hidup  juga menjadi faktor lain yang memicu terjadinya penyakit degeneratif diusia dini. Gaya hidup yang kurang baik, memakan makanan yang kurang sehat seperti junk food tentu saja bisa menyebabkan kasus penyakit degeneratif seperti obesitas, serangan jantung maupun diabetes semakin meningkat setiap tahunnya di negeri kita tercinta ini.
Menurut penelitian di WHO, jumlah penderita penyakit degeneratif saat ini di dunia telah mencapai lebih dari satu milyar orang dan akan bertambah setiap tahunnya dan penyakit jantung koroner atau sering disebut dengan serangan jantung mendadak telah menjadi pembunuh nomor satu di dunia.
Namun sobat tidak perlu khawatir, ada beberapa langkah mudah yang bisa membantu sobat n untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif ini.
1. Makan makanan yang sehat
Kurangi memakan makanan junk food, makanan yang kurang sehat seperti goreng-gorengan dan sebagainya. Biasakan untuk makan makanan bergizi seperti karboidrat yang cukup, vitamin, mineral, protein, zat besi dan susu sehingga kebutuhan nutrisi bagi tubuh kita bisa terpenuhi secara baik.
2. Kurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak atau minyak
Lemak hewani memang dibutuhkan bagi tubuh kita namun jumlahnya tidak terlalu berlebihan. Usahakan untuk mengkonsumsi ikan, karena ikan mengandung asam omega 3 yang baik untuk kesehatan tubuh kita.
3. Minum air putih secukupnya
air sangat penting bagi tubuh kita, karena menjaga vigoritas sel tubuh. Jika anda minum, usahakan meminum air putih setidaknya 2 liter atau 8 gelas sehari dan kurangi minuman beralkohol, bersoda atau minuman yang mengandung gula, karena minuman yang mengandung gula bisa menambah asupan kalori di tubuh kita.
4. Biasakan berolahraga
Segera biasakan anak atau keluarga untuk berolahraga, seperti lari pagi atau jogging, bersepeda maupun aktifitas lain yang mengeluarkan keringat. Kurangi bermalas-malasan atau sering tidur ketika akhir pekan karena bisa memicu kegemukan.

Baca selengkapnya disini

Perilaku Makan Buruk Picu Penyakit Degeneratif


Browser anda tidak mendukung iFrame Rabu, 30 Oktober 2013 15:55 wib
detail berita
Nur Mahmudi (Foto: dok Okezone)
GAYA hidup yang kurang sehat dengan mobilitas tinggi serta pola makan yang salah mendorong masyarakat perkotaan rentan terkena penyakit degeneratif. Bahkan, perilaku makan yang salah, ternyata juga menjadi penyumbang terbesar sebagai penyebab munculnya penyakit tersebut.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dalam dua tahun terakhir berkampanye untuk melakukan gerakan hidup sehat dengan mengurangi karbohidrat dan makanan yang mengandung tepung terigu. Tujuannya, untuk mengurangi porsi makanan yang memiliki angka glikemik indeks (GI) yang rendah serta gluten yang tak baik untuk kesehatan.

"Apa yang saat ini dikerjakan di Depok, agak berbeda soal ketahanan pangan, Depok tekankan untuk upaya mengubah mindset dari konsumsen yang sudah salah perilakunya. Komunitas perkotaan perilaku makannya yang salah. Banyak penyakit degeneratif, sangat menggejala di komunitas perkotaan," kata Nur Mahmudi yang juga didaulat menjadi Wali Kota Teladan dalam Gerakan Diversifikasi Pangan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Menurut Ahli Teknologi Pangan A&M Texas University ini, penyakit degeneratif justru menyedot biaya publik jauh lebih besar daripada penyakit lain. Umumnya, kata dia, masyarakat perkotaan, tidak memiliki kecukupan sumber pangan dari produksi sendiri, namun pada waktu yang sama mempunyai buying power cukup tinggi.

"Sayangnya, orang yang punya buying power tinggi, justru dihadapkan dengan salah tadi, tak gunakan kecerdasan untuk memilih jenis makanan yang lebih friendly, justru mengumbar dengan jenis makanan camilan yang menumbuhkan selera tinggi, garam, lemak, gula," paparnya.

Memang secara metabolisme tubuh seluruh zat tersebut diperlukan. Namun, kata dia, dalam perjalanannya justru makanan - makanan tersebut telah berhasil membujuk dan meninabobokan masyarakat dan membuat ketagihan.

"Kalau enggak manis enggak makan, enggak minum. Jelas gula, laku. Makanan berbasis lemak pasti laku karena gurih. Terpesona terhadap rasa asin, manis, dan gurih dari minyak. Kelebihan garam bisa hipertensi, kelebihan tepung dan gula bisa diabetes, gendut, obesitas," paparnya.

Karena itu ia mengajak masyarakat perkotaan untuk mulai mengurangi ketergantungan kepada beras atau nasi dari padi. Yakni bisa dimulai dengan kegiatan Sehari Tanpa Nasi (One Day No Rice), atau pola dua - satu yakni dua kali sehari makan makanan non beras, dan satu kali sehari boleh makan nasi.

"Lemak perlu juga sebagai pembawa vitamin, mengandung aneka bahan - bahan metabolisme kita. Di kala berlebihan justru jadi penyakit. Jadilah konsumen cerdas. Pilih jenis karbo yang low GI. Terigu kini dikenal memiliki bahan kandungan gluten, makin yang justru dijauhi penderita autis," tutupnya. (ind)

Untuk mendapatkan naskah asli klik  disini  yaa...

Penyakit Degeneratif

Apa itu penyakit degeneratif? Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ / alat tubuh. Tubuh mengalami defisiensi produksi enzim & hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid, kerusakan sel ( DNA ), pembuluh darah, jaringan protein & kulit ( ketuaan ).

Jenis Penyakit Degeneratif
  • Hipertensi
  • Hiperlipidemia
  • Hipercholesterolemia
  • Stroke
  • Jantung Koroner
  • Kerusakan Syaraf Otak ( pikun )
  • Artritis Rematoid
  • Deabetes Mellitus Tipe 2 ( lipotoxic pankreas, insulin resistence )
  • Penuaan Kulit, dll
Faktor Penyebab
  1. Gaya hidup tidak sehat :
    • Kurang olah raga
    • Merokok
    • Alkoholic ( pecandu alkohol )
    • Narkoba
    • Workaholic ( gila kerja )
    • Stres psikologis ( tekanan batin )
  2. Konsumsi lemak jenuh ( kolesterol ), gula murni berlebihan & kurang serat
  3. Obesitas / Kegemukan
  4. Paparan zat kimia ( plastik, Pb, Ar, Hg, zat warna pakaian, asam borak, formalin, dll )
  5. Makanan teroksidasi ( minyak jlantah, pemanasan minyak dg suhu tinggi, daging bakar / panggang )
  6. Makanan kaleng, penambah rasa ( MSG )
  7. Radikal bebas ( polusi udara dari asap motor/mobil, asap pabrik, asap rokok )
  8. Sinar matahari ( jam 09.00 – 15.00 WIB ), pengobatan dg sinar ultra violet jangka panjang
Cara Pencegahan
  1. Gaya hidup sehat
  2. Menu makanan mengandung zat gizi seimbang & bervariasi
  3. Hindari paparan toxic prooksidan ( radikal bebas )
  4. Suplemen antioksidan :
  • Vit. B12 : sistim syaraf & otak
  • Asam folat : merangsang metabolisme homosistein agar tdk mjd plak di arteri
  • Betakaroten : sel kekebalan ( sel T, limfosit ), mencegah oksidasi LDL kolesterol, mencegah penyakit jantung & stroke
  • Vit. E  : mencegah oksidasi LDL kolesterol, menurunkan aterosklerosis
  • Vit. C  : menghambat sel kanker, meningkatkan HDL kolesterol, menurunkan tekanan darah, memperkuat pembuluh darah, meremajakan sel darah putih, membentuk antioksidan endogen glutation
  • Ca  : mencegah oksidasi LDL kolesterol & menurunkan tekanan darah
  • Mg : sistesis ATP, stabilisisasi DNA, RNA, menurunkan tekanan darah, mencegah resistensi insulin, mencegah cardiac arrest
  • Se : Zat kemopreventif, pembetuk antioksidan endogen enzim peroksidase glutation
  • Cr : meningkatkan kerja insulin, mencegah DM
  • Zn : mengaktifkan kelenjar thimus untuk produksi antibodi, pembetuk antioksidan endogen enzim superoksida dismutase ( SOD )
  • Mn : pembetuk antioksidan endogen enzim superoksida dismutase ( SOD )
  • Cu : pembetuk antioksidan endogen enzim superoksida dismutase ( SOD )
  • Koenzim Q- 10 : mencegah oksidasi LDL kolesterol
Kebutuhan
  1. Asam folat     : 400 mcg/hr
  2. Vit. E                : 400 – 800 IU
  3. Vit. C                : 300 – 5.000 mg/hr
  4. Betacaroten  : 3.800 – 11.000 IU /hr
  5. Cr                       : 200 mcg/hr
  6. Mg                     : 200 mcg/hr
  7. Se                      : 50 – 200 mcg/hr
  8. Ca                      : 500 – 1.500 mg/hr
  9. Se                      : 15 – 30 mg/hr
  10. Koenzim Q     : 30 mg/hr

Baca selengkapnya disini

My Computer Exercise

KIAT SEDERHANA TANGKAL RADIKAL BEBAS

Dalam dua dasawarsa terakhir, pemahaman mengenai mekanisme gangguan kesehatan berkembang, terutama yang berhubungan dengan penyakit degeneratif.  Maka pemahaman seputar radikal bebas dan antioksidan pun berkembang lebih luas.
Proses metabolisme tubuh selalu diiringi pembentukan radikal bebas, yakni molekul-molekul yang sangat reaktif.  Molekul-molekul tersebut memasuki sel dan “meloncat-loncat” di dalamnya.  Mencari, lalu “mencuri” satu elektron dari molekul lain untuk dijadikan pasangan. Pembentukan radikal bebas dalam tubuh pada hakikatnya adalah suatu kejadian normal, bahkan terbentuk secara kontinyu karena dibutuhkan untuk proses tertentu, di antaranya oksidasi lipida.
Tanpa produksi radikal bebas, kehidupan tidaklah mungkin terjadi.  Radikal bebas berperan penting pada ketahanan terhadap jasad renik.  Dalam hati dibentuk radikal bebas secara enzimatis dengan maksud memanfaatkan toksisitasnya untuk merombak obat-obatan dan zat-zat asing yang beracun.
Namun pembentukan radikal bebas yang berlebihan malah menjadi bumerang bagi sel tubuh, karena sifatnya yang aktif mencari satu elektron untuk dijadikan pasangan.  Dalam pencariannya, membran sel dijebol dan inti sel dicederai.  Aksi ini dapat mempercepat proses penuaan jaringan, cacat DNA serta pembentukan sel-sel tumor. Radikal bebas juga “dituding” dalam proses pengendapan kolesterol LDL pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis).
Tubuh memerlukan bala bantuan untuk mengendalikan jumlah radikal bebas yang melampaui kebutuhan itu, yaitu antioksidan yang sebenarnya sudah terbentuk secara alamiah oleh tubuh.  Berdasarkan sifatnya, antioksidan mudah dioksidasi (menyerahkan elektron), sehingga radikal bebas tak lagi aktif mencari pasangan elektronnya.
Unsur antioksidan yang terpenting adalah yang berasal dari vitamin C, E dan A serta enzim alamiah. Demi memenuhi tuntunan itu, berbagai upaya dilakukan, misalnya dengan mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur yang kaya akan vitamin dan mineral tertentu.  Ada pula yang menempuh cara lebih praktis, yaitu mengonsumsi suplemen, baik yang berbahan dasar alami maupun yang sintetis.
Belum banyak yang memahami benar seberapa banyak kebutuhan tubuh kita akan vitamin A, C dan E yang dikelompokkan sebagai antioksidan.  Sebagai contoh masih terdapat perbedaan pendapat tentang dosis Vitamin C yang perlu dikonsumsi setiap hari.  Sebagian pakar merekomendasikan cukup 60–70 mg, dengan alasan cukup untuk kebutuhan setiap hari.  Jika mengonsumsi berlebih akan terbuang dalam urin. Sedangkan yang lain menganjurkannya 500–1.000 mg agar Vitamin C bukan sekedar memenuhi kebutuhan tubuh untuk stimulasi proses metabolisme, tetapi benar-benar dapat berfungsi sebagai antioksidan.
Beberapa pakar nutrisi berpendapat, bahwa kecukupan antioksidan dapat diperoleh dengan cara  menjaga pola makan bergizi seimbang. Namun, pada kenyatannya tidak banyak yang dapat melakukannya setiap hari.  Sebagai contoh, bagi kalangan berpendapatan kelas menengah-bawah buah-buahan yang dijual pada umumnya relatif mahal, sehingga kebutuhan akan vitamin yang tergolong anti oksidan menjadi berkurang.  Mereka berpendapat dapat digantikan dengan suplemen yang lebih murah. Namun keunggulan suplemen ini tetap kalah jika dibandingkan dengan makanan alami, karena pada yang alami terdapat vito chemicals, yaitu sekumpulan bahan-bahan kimia yang mempunyai fungsi belum diketahui secara rinci.
Ada pula yang berpendapat, dalam mengonsumsi suplemen, mengambil dosis yang moderat, artinya tidak menggunakan vitamin dengan dosis terlalu tinggi, contohnya 500 mg Vitamin C setiap hari.  Penggunaan dosis tinggi dianggap tidak baik bagi kesehatan, apalagi digunakan dalam jangka panjang. “Beberapa studi menunjukkan, dosis terlalu tinggi mengubah sifat antioksidan menjadi prooksidan,” peringatan dr Benny Soegianto, MPH. (alm) dalam sebuah wawancara dengan reporter majalah kesehatan tujuh tahun silam.  Kendatipun demikian sampai saat ini masih banyak konsumen yang tergoda untuk rutin memakai dosis tinggi karena terbuai janji khasiatnya sebagai penghambat proses penuaan.
Tubuh kita sendiri, lanjut dr Benny seringkali mampu memberikan sinyal kekurangan vitamin tertentu.  Sebagai contoh, jika Vitamin B dan C dalam kurun waktu tertentu tidak cukup dikonsumsi dan tubuh sedang bekerja keras, maka akan timbul sariawan dan tubuh akan terasa pegal.  Oleh karenanya kecukupan kedua macam vitamin tersebut perlu dijaga dengan cara–suka tidak suka- mengonsumsi buah segar setiap hari dalam porsi yang memadai.

Untuk mendapatkan Jurnal penelitian yang lengkap dapat diklik disini yaaa....^^

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT LAPORAN TAHUNAN TENTANG PENIMBANGAN BALITA DI MICROSOFT EXCEL


1.      Buka program Ms. Excel.
2.      Tambahkan sheet hingga menjadi 20 sheet.
3.      Rename sheet 1─ 20 dengan nama masing-masing sheet sebagai berikut : “DATA, 1, 2, 3, TW1, 4, 5, 6, TW2, SMT1, 7, 8, 9, TW3, 10, 11, 12, TW4, SMT2, THN”.
Keterangan:
-          Angka 1─ 12 merupakan nama bulan dari Januari─Desember
-          TW 1─ 4 merupakan triwulan 1─4
-          SMT 1─2 merupakan semester 1─2
4.      Pada sheet DATA buatlah sebuah tabel yang berisi data yang akan diolah/ dipanggil nantinya ketika bekerja pada sheet lain . Beri judul seperti pada gambar berikut :
Name box pada judul “LAPORAN PENIMBANGAN BULANAN BALITA” rename dengan kata “judul” untuk memudahkan nantinya dalam memanggil datanya pada sheet lain. Begitu pula pada name box pada nama pusakesmas, tempat, tahun, masing-masing nama bulan, masing-masing namadan nip tgp, serta masing-masing nama dan nip dokter. Rename dengan nama yang memudahkan Anda dalam memanggil data tersebut nantinya.
5.      Kemudian pada sheet 1 buatlah sebuah tabel yang berisi data laporan penimbangan pada bulan Januari.
Keterangan :
-          Untuk memberi catatan pada kolom POSYANDU, S, K, D, N, K/S, D/S, N/D, N/S, klik kanan pada kolom tersebut lalu pilih insert comment. Tulis catatan yang Anda butuhkan. Lalu tekan enter.
-          Pada judul digunakan rumus:
=judul&" PUSKESMAS "&pkm&" "&kab&" BULAN "&jan&" TAHUN "&tahun
Lalu tekan enter.
-          Pada kolom K/S isi data dengan menggunakan rumus:
=D6/C6%
Lalu tekan enter.
Tambahkan grafik untuk melengkapi data tabel tersebut.
-          Pada kolom D/S isi data dengan menggunakan rumus:
=E6/C6%
Lalu tekan Enter
-          Pada kolom N/D isi data dengan menggunakan rumus:
=F6/E6%
Lalu tekan enter.
-          Pada kolom N/S isi data dengan menggunakan rumus:
=F6/C6%
Lalu tekan enter.
-          Pada Kolom pembinaan D/S isi data dengan menggunakan rumus:
=IF(H6<tdsjan,"Bina","-")
Lalu tekan enter.
-          Pada Kolom pembinaan N/D isi data dengan menggunakan rumus:
=IF(I6<ndsjan,"Bina","-")
Lalu tekan enter.
-          Pada baris PUSKESMAS (yang diberi warna biru dari C16─ F16) merupakan total/ penjumlahan dari data-data di atasnya, menggunakan rumus:
=SUM(C6:C15)
Lalu tekan enter.
Sedangkan dari G16─J16 merupakan rata-rata dari data-data di atasnya, menggunakan rumus:
=AVERAGE(G6:G15)
Lalu tekan enter.
Sedangkan dari K16─L16 merupakan total pembinaan dengan menggunakan rumus:
=COUNTIF(K6:K15,"Bina")
Lalu tekan enter.
-          Pada catatan digunakan rumus:
="catatan : Pada bulan "&jan&" ini jumlah posyandu yang perlu dibina D/S nya adalah "&COUNTIF(K6:K15,"Bina")&" posyandu dan N/D "&COUNTIF(L6:L15,"Bina")&" posyandu"
Lalu tekan enter.
-          Pada nama tempat dan tanggal dibuatnya laporan menggunakan rumus:
=tempat&", 5 "&feb&" "&tahun
Lalu tekan enter.
Nama TGP menggunakan rumus:
=natgp
Nim tgp menggunakan rumus:
=niptgp
Kemudian lengkapi tabel dengan grafik, caranya :
-          Blok semua data pada tabel.
-          Pilih menu insert à pilih charts à pilih salah satu grafik yang diinginkan à klik OK
6.      Pada sheet TW 1─ 4 semua data pada tabel dirata-ratakan berdasarkan data 3 bulan sebelumnya. Misalnya data pada kolom S digunakan rumus =AVERAGE('1'!C6;'2'!C6;'3'!C6), pada kolom K digunakan rumus =AVERAGE('1'!D6;'2'!D6;'3'!D6), pada kolom D digunakan rumus =AVERAGE('1'!E6;'2'!E6;'3'!E6), pada kolom N digunakan rumus =AVERAGE('1'!F6;'2'!F6;'3'!F6), lalu tekan enter. Begitu seterusnya.
Sedangkan pada sheet SMT1, semua data pada tabel dirata-ratakan berdasarkan data pada sheet TW1 dan TW2, pada SMT2 semua data pada tabel dirata-ratakan berdasarkan data pada sheet TW3 dan TW4, dan pada sheet THN semua data pada tabel dirata-ratakan berdasarkan data pada sheet SMT1 dan SMT2.
7.      Selanjutnya cara membuat hyperlink yaitu letakkan kursor pada posisi data yang akan diberi hyperlink, lalu pilih menu insert dan pilih hyperlink. 
Kemudian akan muncul kotak dialog hyperlink. Pada “link to:” pilih place in this document. Pada “or select a place in this document :” pilih sheet yang akan dihubungkan dari “Januari” tersebut ke sheet 1 untuk laporan pada bulan JANUARI. Dan pada “screenTip” digunakan untuk memberi nama pada hyperlink “JANUARI” ditulis “Laporan Bulan Januari”. Lalu tekan OK. Jika hyperlink “JANUARI” tersebut diklik akan terhubung ke sheet 1.

Pada sheet 1, judulnya kita beri hyperlink juga agar bisa terhubung kembali ke sheet DATA. Caranya sama seperti sebelumnya, cuma pada screenTip ditulis “Kembali ke Menu Utama”. Klik OK.
8.      Cara memprotect data yaitu pilih menu review pilih protect sheet maka akan keluar kotak dialog protect sheet dan isikan password, pilih OK, dan reenter password kembali dan tekan OK.
Demikian langkah-langkah dalam membuat laporan tahunan tentang penimbangan balita di Microsoft Excel. Semoga bermanfaat yaaa.... selamat mencobaaaa ^^

Untuk contoh aslinya dapat dilihat disini

Template by:

Free Blog Templates